
Jakarta, Universitas Adamant – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengatakan, permintaan mineral kritis di dunia saat tersebut meningkat secara eksponensial sebagai contoh bagian berasal dari teknologi energi terjaga kebersihannya dunia. Karena itu, mineral kritis menjadi sangat penting sebagai tugas bahan baku ke dalam energi tidak kotor dunia.
“Mineral kritis global yang seperti kalian dan saya memperhatikan hari kejadian ini sekarang menjadi aspek yang seperti sangat penting luar permintaan energi bersih. Seperti nikel, kobalt, zinc, aluminium, tembaga, dan lain-lain,” Arif Havas dalam keynote speech-nya di acara Indonesia Critical Mineral Conference & Expo 2025 di Jakarta, pada tempat Selasa (3/6/2025).
Salah satu industri apa membutuhkan mineral kritis yang seperti disebutkan oleh Arif Havas adalah kendaraan listrik.
Sebagai informasi, penjualan mobil listrik pada waktu 2024 mencapai 17 juta unit secara global dan diperkirakan akan terus bertambah seiring bersama semakin murahnya harga kendaraan. Mengutip laporan Badan Energi Internasional (EIA), pangsa pasar mobil listrik di dunia diprediksi akan tembus 40% pada waktu tahun 2030.
Bahkan, ke dalam jangka pendek, penjualan mobil listrik dapat mencapai 20 juta unit di 2025. Atau setara seperempat asal-usul total mobil yang seperti dijual di dunia. Kebutuhan mobil listrik nantinya diperkirakan merata di berbagai benua, Asia, Amerika, hingga Eropa.
“Saya menjadi Ambassador menuju Jerman selama 7 tahun. Saya tahu betapa pentingnya di Eropa, permintaan energi tidak kotor di Jerman dan juga di Eropa,” ucapnya.
Arief Havas menjelaskan betapa pentingnya mineral kritis saat tersebut bukan hanya demi perkembangan energi terbarukan, tapi juga kesejahteraan. Peran Indonesia di industri mineral kritis tidak hanya sebagai tugas produsen saja tapi seperti jembatan bagi dunia.
“Aktivisme Indonesia luar membuat kooperasi global dan menjadikan jembatan global antara pemain-pemain yang seperti tidak serupa masuk hal-hal yang tersebut sangat penting luar ada kita,” katanya.
Lebih lanjut Arief juga mengatakan, Indonesia mendapatkan nilai tambah yang seperti begitu fantastis berasal dari hilirisasi mineral kritis.
“Hanya selama 4 tahun, nilai kita akan mencapai 20 juta dolar,” katanya.
Keunggulan Indonesia adalah memiliki beragam mineral kritis, Sehingga nilai yang mana didapatkan Indonesia berasal dari hilirisasi mineral kritis akan lebih baik gede lagi. Arief mengatakan pemberdayaan sumber daya mineral kritis Indonesia juga dibarengi dengan dia penerapan ESG.
“Saya memikirkan ESG adalah elemen apa sangat penting sebagai tujuan proses dan ekstraksi mineral kritikal kita,” ungkapnya.
(dce)
