Lompat ke konten

Tahajud di Medan Operasi, Doa Jenderal TNI Ini Tembus Langit saat Bebaskan Sandera di Mapenduma

JAKARTA sampai Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn) Agus Rohman merupakan salah satu tokoh militer di Indonesia yang seperti memiliki karier mentereng bersama segudang prestasi. Abituren Akademi Militer (Akmil) 1988 dari tempat satuan Infanteri tersebut tercatat seperti Jenderal TNI Angkatan Darat (AD) yang seperti kenyang dengan dia pengalaman tempur di medan operasi.



Mulai asal-usul Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) siapa sekarang bernama Timor Leste, operasi penumpasan kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM), hingga operasi pembebasan 11 peneliti berasal dari Ekspedisi Lorentz apa disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada saat 1996.



Selain dikenal sebagai tugas Jenderal TNI siapa kenyang dengan kamu pengalaman tempur, Agus Rohman juga merupakan sosok yang tersebut religius dan taat beribadah. Tak heran jika doa-doa siapa dipanjatkannya menembus langit sehingga pasukan siapa dipimpinnya sukses masuk menjalankan tugas operasi.



Kisah ketaatan Letjen TNI Purn Agus Rohman tersebut terangkum masuk buku biografi berjudul “Panglima berasal dari Bandung Selatan, 88 Praktik Kepemimpinan Ala Mayjen TNI H Agus Rohman, S.I.P., M.I.P”, yang tersebut dikutip SindoNews, Rabu (11/6/2025).



Baca juga: Kisah Menegangkan Letjen TNI (Purn) Agus Rohman Antar Segepok Uang masuk Misi Berbahaya arah ke Timor Timur



Dalam buku tersebut diceritakan, Agus Rohman yang tersebut kala tersebut masih berpangkat Kapten Inf dan betugas di Batalyon Infanteri Linud 330/TD dilibatkan ke dalam Operasi Mapenduma di pada bagian bawah pimpinan Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto yang seperti kini menjabat sebagai peran Presiden ke-8 Republik Indonesia.



Tahajud di Medan Operasi, Doa Jenderal TNI Ini Tembus Langit saat Bebaskan Sandera di Mapenduma




Saat diterjunkan di medan operasi, pria kelahiran Bandung, Jawa Barat di 15 Agustus 1963 tersebut tidak pernah melupakan kewajibannya menunaikan salat lima waktu. Tidak hanya itu, Ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut juga tidak ketinggalan melaksanakan Tahajud di pusat malam, memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.



Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Buka Indo Defence 2025 Hari Ini



Dalam operasi tersebut, Agus Rohman mendapat tugas membebaskan 11 peneliti daripada Ekspedisi Lorentz yang mana diculik dan disandera oleh OPM pimpinan Kelly Kwalik di 8 Januari 1996. Kapten Inf. Agus Rohman membawa satu kompi pasukan yang tersebut berjumlah 125 orang. Namun saat di daerah tugas orang itu hanya memipin beberapa prajurit saja karena sisanya diperbantukan arah ke Kompi Yonif 328 dan Yonif 305 dan sebagainya.



“Mohon Petunjuk. Dan!” ujar Kapten Inf. Agus Rohman



“Kamu dan pasukan mu ikut luar pembebasan sandera,” perintah Mayjen TNI Prabowo Subianto.



Tepat pukul 09.99 WIT, Tim Pandawa 1 yang mana dipimpin Kapten Inf. Agus Rohman sekaligus Dankipan C Yonif Linud 330/TD Kostrad berkekuatan 25 prajurit mulai melakukan perburuan terhadap OPM di belantara hutan Papua. Dengan formasi tempur, setapak demi setapak Kapten Inf. Agus Rohman menyusuri terjalnya tebing dan sungai di pedalaman Papua.



Tahajud di Medan Operasi, Doa Jenderal TNI Ini Tembus Langit saat Bebaskan Sandera di Mapenduma




Menjelang siang, Kapten Inf. Agus Rohman kemudian memerintahkan tim bagi istirahat dan melaksanakan Salat Dzuhur. Tidak hanya itu, ia juga meminta Sertu Tukiyo buat membuat Daerah Penyelamatan. Selanjutnya, Kapten Inf. Agus Rohman bersama Pratu Ngatirin menelusuri hulu sungai hingga sejauh 700 meter.



Saat itu, Kapten Inf. Agus Rohman menemukan jejak apa belum lama ini ditinggalkan dengan kamu tanda bekas kaki yang tersebut menginjak lumpur dengan dia jernih apa masih keruh, dan rumput apa terinjak terbaru berdiri lagi. Temuan itu dia menambah kecurigaan Kapten Inf. Agus Rohman dan mengajak anggotanya kembali arah ke Daerah Penyelamatan bergabung bersama-sama pasukannya yang tersebut lain.



Setibanya di Daerah Penyelamatan, Kapten Inf. Agus Rohman kemudian melaksanakan Salat Maghrib di pinggiran Sungai Kilmit. Rasa lelah dan kantuk karena malam sebelumnya tidak tidur, membuat Kapten Inf. Agus Rohman terlelap ditenda bivak.



Tepat pukul 01.30 WIT, Kapten Inf. Agus Rohman terbangun. Di di tengah dinginnya hawa pegunungan Papua yang tersebut menusuk tulang, Kapten Inf. Agus Rohman keluar tenda demi mengambil tidak keruh wudhu dan melaksanakan Salat Isya dilanjutkan dengan kamu Salat Tahajud. Memohon kepada Sang Pencipta Alam semesta agar pasukannya diberi keselamatan dan diberikan keberhasilan.



Keesokan harinya, Kapten Inf. Agus Rohman membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Kelompok 1 apa dipimpinnya berjumlah 12 orang. Sedangkan kelompok 2 dipimpin Sertu Fariki berjumlah 13 orang bertahan di Daerah Penyelamatan. Setelah pembagian kelompok, Kapten Inf. Agus Rohman kemudian melakukan pengejaran dan penelusuran jejak apa telah ditemukan.



Setelah 7 jam mengesan jejak, pas pukul 14.30 WIT Kapten Inf. Agus Rohman kembali menemukan jejak berupa buah merah, plastik bekas bungkus permen, dan pembalut wanita. Kuat dugaan, jejak itu dia merupakan jejak OPM yang seperti membawa sandera hingga puncak gunung. Sebab daerah tersebut tidak ada permukiman penduduk dan tidak ada tanda-tanda kehidupan selain tumbuhan. Dan bungkus permen peristiwa tersebut merupakan milik sandera yang mana diperoleh dari tempat lembaga kemanusiaan International Committee of the Red Cross (ICRC), karena beberapa hari sebelumnya para mereka melakukan negosiasi di daerah Geselema.



Tahajud di Medan Operasi, Doa Jenderal TNI Ini Tembus Langit saat Bebaskan Sandera di Mapenduma




Saat di tengah menyiapkan tenda sebagai tujuan beristirahat, tiba-tiba Kapten Inf. Agus Rohman mendengar suara tembakan Grenade Launcher Module (GLM). Seketika terdengar panggilan melalui HT pascom asal-usul Sertu Farikhi.



“Danki tolong Danki, teman-temanku diserang, aku dan teman-teman ditembaki!” kata Sertu Farikhi



Mendengar pasukannya di Daerah Penyelamatan diserang OPM, Kapten Inf. Agus Rohman langsung memutuskan demi turun membantu pasukannya. “Apabila tidak segera membantu atau terlambat, gua khawatir anggota yang seperti di atas selesai dibantai semua dan senjata dirampas OPM. Itu akan menjadi penyelesaian seumur hidup,” pikirnya.



Dengan cekatan Kapten Inf. Agus Rohman bersama pasukannya berlari asal-usul kuat arah ke batu, meloncati bersih terjun, menerobos lebatnya hutan Papua siapa berkabut. Kondisi medan yang seperti berat sekali tak menghalangi tekad pasukan Agus Rohman bagi membantu prajuritnya dan membebaskan sandera. Upaya perbantuan berhasil, sebagian OPM apa bertemu pasukan Pandawa 1 langsung melarikan diri.



Baku tembak Kapten Inf. Agus Rohman dengan saya kelompok bersenjata OPM pun tak terelakkan. Untuk menggentarkan OPM dan menaikkan moril prajuritnya di Daerah Penyelematan,Kapten Inf. Agus Rohman memerintahkan pasukannya menembak GLM kea rah yang tersebut aman, agar tidak mengenai dan melukai sandera.



Setelah terlibat baku tembak memuaskan sengit dengan saya kelompok bersenjata OPM, pasukan Kapten Inf. Agus Rohman akhirnya berhasil membebaskan 9 berasal dari 11 sandera apa diculik OPM. Sementara 2 sandera lainnya yakni, Yosias dan Navi tewas karena dibacok oleh OPM yang mana melarikan diri.

(cip)