Lompat ke konten

Rusia Blak-blakan Ungkap Senjata Makan Tuan siapa Bisa Bikin NATO Bubar

Jakarta, Universitas Adamant sampai Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan bahwa keputusan negara-negara anggota NATO buat menaikkan anggaran pertahanan secara signifikan berdaya menjadi bumerang bagi aliansi itu dia sendiri. Dia bahkan menyebut peningkatan belanja militer menyebabkan kehancuran organisasi tersebut.

Pernyataan Lavrov tersebut muncul sebagai peran tanggapan di atas komentar Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski yang mana sebelumnya menyatakan bahwa perlombaan senjata antara Rusia dan negara-negara Barat berpotensi menjatuhkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

“Karena ia [Sikorski] merasa dirinya seorang peramal, barangkali beliau juga memungkinkan melihat bahwa peningkatan anggaran yang mana sangat raksasa asal-usul negara-negara anggota NATO, menurut penilaian saya, justru akan membawa pada saat kehancuran organisasi ini,” ujar Lavrov, dikutip daripada Reuters, Selasa (1/7/2025).






Sebelumnya, para pemimpin NATO pada waktu Rabu pekan lalu menyetujui peningkatan berkilat anggaran pertahanan sebagai peran respons bawah tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pertemuan itu, para pemimpin aliansi juga kembali menegaskan komitmen kolektif untuk keperluan mempertahankan satu tunggal lain asal-usul apa yang seperti siapapun mereka sebut sebagai contoh ancaman dari tempat Rusia.

Namun Rusia, yang mana telah melancarkan invasi besar-besaran arah ke Ukraina sejak 2022 setelah itu delapan tahun konflik di wilayah timur Ukraina, menolak klaim Barat bahwa Moskow berniat menyerang negara anggota NATO. Rusia dan Amerika Serikat sebelumnya sama-sama mengingatkan bahwa eskalasi ke arah arah tersebut memungkinkan memicu Perang Dunia Ketiga.

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan pada saat Jumat lalu bahwa pemerintahannya berencana memangkas pengeluaran militer mulai tahun depan. Pernyataan yang ini menjadi sinyal menarik di pusat terus memanasnya hubungan Rusia dengan saya NATO.

Meski begitu, data anggaran Rusia menunjukkan belanja pertahanan tetap berada pada saat level yang tersebut sangat tinggi. Pemerintah Rusia meningkatkan belanja pertahanan negara hingga seperempat sebagai tujuan tahun anggaran 2025, yakni mencapai 6,3% asal-usul PDB, angka tertinggi sejak era Perang Dingin. Porsi belanja pertahanan hal ini bahkan mencakup sekitar 32% dari tempat total anggaran federal Rusia tahun 2025.

Sementara itu, NATO dan sekutunya beralasan bahwa peningkatan belanja pertahanan diperlukan buat menghadapi ancaman geopolitik apa meningkat, tidak hanya dari tempat Rusia, tetapi juga daripada aktor-aktor lain seperti China.

Namun keputusan bagi meningkatkan anggaran hingga mencapai 3,5% asal-usul PDB buat pertahanan dan 1,5% buat infrastruktur militer memunculkan kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal di banyak negara anggota, terutama Eropa.

Beberapa negara seperti Prancis, Belgia, dan Italia bahkan diperkirakan akan kesulitan memenuhi target segara tersebut, sementara Spanyol menolak kesepakatan itu dia secara langsung.

 



(luc/luc)



[Gambas:Video CNBC]