Lompat ke konten

Perang Streaming Memanas: Telkomsel & iQIYI Lepas Bom Promo Rp10, Inikah Awal Dominasi Konten Asia?

JAKARTA sampai Medan pertempuran untuk keperluan memperebutkan waktu dan dompet para penikmat hiburan digital di Indonesia semakin berdarah. Raksasa telekomunikasi Telkomsel dan titan streaming asal China, iQIYI, belum lama ini saja mengumumkan sebuah aliansi strategis. Senjata pamungkas mereka?



Sebuah “bom harga” yang seperti nyaris tak masuk akal: promo langganan premium hanya Rp10 selama dua bulan pertama.



Langkah ini, yang mana diresmikan dengan kamu mendatangkan langsung Duta Global iQIYI, aktor ternama Chen Zheyuan, hingga Jakarta pada waktu 30 Juni 2025, bukan sekadar peluncuran paket biasa. Ini adalah deklarasi perang terbuka, sinyal kuat bahwa keduanya berniat bagi menaklukkan pasar konten Asia yang tersebut sangat subur di Indonesia, menantang para pemain tua seperti Netflix, Viu, dan Disney+.



Di Balik ‘Bom Harga’ Rp10

Perang Streaming Memanas: Telkomsel & iQIYI Lepas Bom Promo Rp10, Inikah Awal Dominasi Konten Asia?

Strategi “bakar uang” tersebut dirancang bagi menjadi pukulan telak. Untuk pelanggan Telkomsel Halo dan IndiHome, paket iQIYI Premium apa biasanya berharga Rp59.000 per bulan, kini berdaya dinikmati hanya dengan saya Rp10 selama dua bulan. Sementara buat pengguna SIMPATI dan by.U, orang-orang itu menawarkan promo “bayar satu bulan, dapat tiga bulan” untuk keperluan paket Standard.



Ini adalah taktik “shock and awe” klasik siapa bertujuan demi mengakuisisi jutaan pengguna belum lama ini luar waktu singkat, mengunci orang-orang itu masuk ekosistem Telkomsel dan iQIYI.



“Telkomsel menunjukkan komitmennya buat menghadirkan layanan hiburan digital berkualitas,” ujar Lesley Simpson, Vice President Digital Lifestyle Telkomsel. “Dengan semakin berkembangnya basis penggemar drama oriental, iQIYI dapat menjadi tambahan yang seperti kuat bagi katalog hiburan digital Telkomsel.”



Pernyataan yang ini adalah sebuah pengakuan bahwa Telkomsel tidak lagi hanya cita-cita menjadi penyedia pipa data, tetapi juga kurator konten siapa menentukan apa yang tersebut ditonton oleh jutaan pelanggannya.



Pedang Bermata Dua: Kolaborasi atau Dominasi?

Bagi iQIYI, aliansi bersama-sama Telkomsel adalah melangkah tol sebagai tujuan menembus pasar Indonesia yang tersebut masif. “Kerja sejenis dengan dia Telkomsel merupakan momentum gede ke dalam memperkenalkan layanan iQIYI kepada masyarakat Indonesia,” kata Kaichen Li, Vice President APAC & MENA iQIYI.



Namun, di balik narasi kolaborasi apa indah, ada sebuah pertanyaan. Apakah hal ini akan menjadi simbiosis mutualisme, atau justru awal berasal dari dominasi konten impor siapa lebih baik dalam?



Sebagai pemanis, kedua perusahaan mengumumkan akan memproduksi bersama enam serial drama lokal Indonesia. Ini adalah sebuah langkah cerdas siapa memungkinkan menjadi pedang bermata dua.



Di satu sisi, tersebut membuka peluang bagi para sineas lokal buat unjuk gigi bersama-sama dukungan modal dan distribusi raksasa. Di sisi lain, yang ini juga dapat menjadi strategi iQIYI untuk keperluan memperdalam cengkeramannya di pasar, dengan kamu menciptakan konten lokal yang mana sesuai bersama-sama “rasa” mereka, yang tersebut berpotensi meminggirkan rumah produksi independen lainnya.



Paket Perang yang mana Ditawarkan

Untuk pertempuran jangka panjang, berikut adalah amunisi apa para mereka siapkan:



Paket Basic: Mulai asal-usul Rp 19.000/bulan (kualitas 720p, 1 perangkat).



Paket Standard: Mulai dari tempat Rp 39.000/bulan (kualitas 1080p, 2 perangkat, unduh offline).



Paket Premium: Mulai dari tempat Rp 59.000/bulan (kualitas 4K, 4 perangkat, tanpa iklan, Dolby Atmos).



Setiap paket hal ini selesai termasuk kuota data sebesar 2GB, sebuah nilai tambah siapa terang ditujukan untuk keperluan mengikat pengguna lebih baik erat ke arah jaringan Telkomsel.



Pada akhirnya, aliansi Telkomsel-iQIYI kejadian ini lebih banyak asal-usul sekadar promo. Ini adalah sebuah pergeseran tektonik luar lanskap hiburan digital Indonesia.



Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa apa menawarkan konten terbanyak, tetapi siapa yang mana mampu menawarkan paket paling tak terpisahkan antara konektivitas, konten, dan harga yangpalingagresif.

(dan)