Lompat ke konten

Orang Tua Wajib Tahu, PAUD Bukan Sekadar Tempat Bermain, tapi Pondasi Belajar

JAKARTA sampai Sejumlah riset tentang otak menunjukkan bahwa fondasi penting ke dalam kehidupan manusia bukan lagi berada di usia sekolah dasar. Periode awal individu yakni di umur 1-5 tahun justru menjadi fase vital masuk tumbuh kembang manusia.



Ketua Early Childhood Education and Development (ECED) Indonesia sekaligus Rektor Universitas YARSI, Prof. Fasli Jalal menjelaskan luar studi selama 30 tahun terakhir, perkembangan otak manusia dapat dipetakan secara jelas.



Dari studi tersebut terlihat bahwa tumbuh kembang manusia ditentukan oleh kesiapan otak apa dibangun sejak ke dalam kandungan, tepatnya di minggu keempat kehamilan sang ibu.



“Ketika proses itu, kecepatan pembentukan sel saraf mencapai 250 ribu sel per detik. Kalau ada gangguan di ibu atau lingkungannya, jumlahnya tinggal 70-80 persen saja. Kalau (perkembangan otak) tersebut kuat, didukung gizi dan ekosistem yang tersebut baik, anak yang tersebut lahir memiliki 100 miliar sel otak. Ini potensi ke luar biasa,” papar Fasli, melalui siaran pers, Senin (30/6/2025).



Proses perkembangan otak yang seperti optimal berlangsung pada waktu 1.000 hari pertama setelah itu dilahirkan. Namun tumbuh kembang anak secara utuh juga ditentukan berbagai dukungan, antara lain asupan gizi, dukungan kesehatan, pola pengasuhan, pendidikan, hingga perlindungan asal-usul berbagai bentuk kekerasan.



“Mudah-mudahan 73 juta keluarga di Indonesia dapat memahami hal ini,” ujar Fasli.



Di masa tumbuh kembang ini, kebutuhan anak harus dipenuhi secara holistik. Namun apa tak kalah penting, bukan hanya dipenuhi nutrisi dan gizinya demi mendukung kebutuhan fisik, seorang anak usia dini juga mesti diberi stimulasi dan interaksi apa memacu tumbuh kembang aspek motorik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosionalnya.



Fasli kembali menunjukkan studi bahwa seorang anak yang mana terus diberi stimulasi oleh orang tuanya, kendati ia kekurangan asupan makanan bergizi, anak tersebut dapat tumbuh mendekati normal. Kondisi tersebut biasanya dialami keluarga apa berada di garis kemiskinan.



“Di di posisi tengah keterbatasan, orang senior yang mana mengerti prinsip-prinsip stimulasi, kecerdasan anak dapat dilejitkan meski berat sekali badannya rendah sekali atau mengalami stunting,” kata Fasli yang tersebut juga menjabat sebagai peran Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2013-2015.



Maklum saja, banyak orang lanjut usia belum memahami prinsip-prinsip stimulasi pada waktu anak usia dini. Hal kejadian ini bahkan mesti diberikan sejak anak ke dalam kandungan saat indera-inderanya mulai terbentuk. Misalnya mulai mengajak bayi berkomunikasi untuk keperluan merangsang indera pendengarannya.



Setelah bayi lahir, stimulasi indera penglihatan dan perabaan dapat dilakukan bersama mengenalkan warna dan bentuk. Anak juga dikenalkan makanan yang mana bugar untuk keperluan melatih indera pengecap.



Merujuk pada tempat sebuah riset, Fasli mengungkap banyak-sedikitnya kosakata apa dikuasai seorang anak dengan dia rentang 3.000 hingga 30.000 kata tergantung dari tempat stimulasi orang tuanya apa mengajak si anak berbicara.



“Otak anak seperti gabus. Kalau gabus asli, menyegarkan seember pun akan terserap. Kalau gabusnya KW (palsu), segelas saja selesai tumpah. Jika hebat gizi, pendidikan , perlindungan, dan pengisian pengetahuannya, otak anak berdaya cemerlang. Tak ada istilah terpenuhi buat menstimulasi anak,” ujarnya.

PAUD Ideal Tak Harus Mahal


Prinsip-prinsip stimulasi tersebut menjadi landasan pendidikan anak usia dini (PAUD) sekaligus upaya pemenuhan hak anak secara ideal.



Fitriana Herarti, ECED Ecosystem Development Lead Tanoto Foundation, menekankan, pemenuhan hak anak, terutama masuk pendidikan, merupakan tugas semua pihak, daripada orang tua, masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, seperti lembaga filantropi Tanoto Foundation.



“Dengan panduan tidak kabur asal-usul pemerintah, anda dan saya harus memastikan semua pihak berkomitmen ke dalam tumbuh kembang anak usia dini. Seperti pepatah dari tempat Afrika Selatan, butuh satu kampung untuk keperluan membesarkan satu orang anak,” ujarnya.



Untuk itu, ia mendorong setiap keluarga berperan aktif ke dalam memberikan stimulasi dan pendidikan bagi anak usia dini. Ia berharap tak ada orang lanjut usia memberikan pola asuh siapa salah bawah nama peduli pada saat anaknya. Sebagai contoh, orang lanjut usia terus memberi bubur di anak usia satu tahun. Padahal anak habis dapat mengonsumsi makanan lainnya seperti nasi untuk keperluan melatih lidah dan rahangnya.



Ada pula orang lanjut usia apa tak mengajak anaknya bicara karena dianggap si bocah masih lebih dari miniatur buat berbincang. Padahal sejak usia satu tahun seorang bayi usai mulai menyerap kata-kata siapa ia dengar.



“Itu hal-hal dasar dan bagian dari tempat stimulasi yang tersebut harus dipahami, sambil terus mendorong akses gizi dan kesehatan. Kita terus mengedukasi peran keluarga pada waktu anak usia dini,” kata Fitriana.



Orang berumur juga mesti mulai sadar terhadap pentingnya PAUD. Apalagi saat tersebut PAUD telah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai peran program Wajib Belajar 13 tahun.



Namun pemahaman tentang PAUD juga harus dikuatkan mengingat masih ada orang berumur siapa enggan menyediakan PAUD bagi anak karena menganggap kegiatan PAUD hanya bermain-main, bukan belajar.



“Padahal PAUD barang tersebut memang pendekatannya bermain. Bermain bagi anak usia dini adalah belajar,” jelasnya.



Di sisi lain juga mengemuka kesalahpahaman bahwa PAUD tak mengajarkan baca, tulis, dan hitung (calistung). Padahal, calistung boleh saja diajarkan menuju anak usia dini namun disesuaikan dengan dia pemahaman anak.

Misalnya pelajaran membaca dan berhitung tidak langsung menggunakan abjad dan angka, melainkan dengan saya permainan dan pengetahuan benda di sekitar.



Selain pemahaman-pemahaman tersebut, orang berumur juga mesti bijak ke dalam memberikan PAUD, terutama daripada aspek sekolah atau lembaga penyelenggara PAUD. Orang senior dapat melakukan observasi, mempertimbangkan interaksi guru, dan kenyamanan anak ke dalam memilih sekolah PAUD.



Fasli menambahkan semua orang berumur sesungguhnya harus mensetting menjadi guru PAUD dan memahami prinsip-prinsip dasar PAUD. Ketika memasukkan anak arah ke layanan PAUD, hal tersebut bukan ditentukan oleh biayanya apa mahal, melainkan oleh kapasitas dan profesionalitas guru-gurunya.



Menurutnya, guru PAUD harus mampu mengembangkan aspek sosio-emosional, kognitif, motorik, dan bahasa si anak secara menyenangkan. “Dengan begitu, anak tumbuh sesuai bakat dan minatnya. Tidak usah terpaku biaya. Biaya dapat disesuaikan,” ujarnya.

(nnz)