Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan World Health Organization (WHO) telah menyelesaikan program pendampingan intensif untuk meningkatkan kualitas pengajaran di institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) milik Kemenkes, guna memenuhi permintaan negara yang terus meningkat akan tenaga kesehatan yang terampil. Sebanyak 38 Poltekkes di bawah Kemenkes memainkan peran penting dalam meluluskan lebih dari 45.000 orang setiap tahunnya, tetapi kualitas staf pengajar yang beragam menimbulkan tantangan yang signifikan terhadap efektivitas pengajaran.
Program “Pendampingan bagi Dosen Poltekkes”, yang dilaksanakan mulai 8 Juli hingga 25 Agustus 2024, melatih 50 dosen di empat Poltekkes di Medan, Yogyakarta, Surabaya, dan Pontianak. Inisiatif ini dibangun berdasarkan kegiatan “Teaching Camp” 2023 dan pengembangan 20 modul keperawatan standar.
Dipimpin oleh Ai Tanimizu, Technical Officer on Nursing and Midwifery, WHO Regional Office for South-East Asia, dan tim WHO Indonesia, program ini memberikan sesi pendampingan intensif selama seminggu di setiap lokasi. Pendampingan tersebut mencakup pembaruan pendidikan keperawatan terkini, sesi pengajaran mikro, dan pelatihan personal. Di Pontianak, tim berpartisipasi dalam pelatihan di lingkungan klinis di Puskesmas Parit Haji Husin II dan Rumah Sakit Soedarso Pontianak.
“Program ini telah meningkatkan keterampilan mengajar saya secara signifikan,” kata Marlisa, seorang dosen dari Poltekkes Medan. “Para pelatih memberikan wawasan yang berharga, menyempurnakan metode kami untuk pendekatan kelas yang lebih menarik. Sesi pelatihan personal meningkatkan kepercayaan diri saya dan menginspirasi saya untuk berbagi pengetahuan ini dengan para mahasiswa.”
Kegiatan tersebut menghasilkan rekomendasi yang komprehensif untuk institusi Poltekkes dan Kemenkes. Dosen Poltekkes didorong untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan klinis mereka guna memastikan mahasiswa menerima pelatihan terkini dan kompeten. Antara lain, mengoptimalkan sesi praktik di laboratorium untuk pengembangan keterampilan praktis, menekankan keselamatan pasien dan komunikasi, serta menetapkan kompetensi dan hasil pembelajaran yang jelas untuk setiap semester. Misi tersebut juga menyoroti pentingnya pengajaran berbasis bukti dan pemikiran kritis.
Untuk Kemenkes, rekomendasinya meliputi pemberian dukungan bahasa Inggris bagi dosen untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengakses dan menyebarluaskan praktik terbaik internasional, dan untuk memfasilitasi kesempatan belajar lintas institusi. Kemenkes juga disarankan mendukung partisipasi dosen dalam program pengembangan profesional di luar negeri, dan mengembangkan kurikulum standar untuk Program Keperawatan Internasional. Ini akan memastikan pendekatan yang terpadu dan konsisten terhadap penyampaian konten di semua institusi Poltekkes, terlepas dari lokasi geografis mereka.
“Kerja sama kami dengan WHO merupakan langkah maju yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan Poltekkes,” kata Arianti Anaya, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Kemenkes. “Dengan memberdayakan staf pengajar kami dengan teknik pengajaran yang canggih dan keahlian klinis, kami membayangkan masa depan saat para lulusan Poltekkes dipersiapkan dengan baik untuk menghadapi tantangan perawatan kesehatan yang terus berkembang di negara kita.”
Program pelatihan ini selaras dengan Arah Strategis Global WHO untuk Keperawatan dan Kebidanan 2021–2025, yang menyoroti pentingnya pengembangan staf pengajar dalam metode pedagogi modern dan keahlian klinis. Program ini mendukung pelaksanaan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020–2024 dan selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 (RPJMN) yang akan datang.
Investasi dalam pendidikan ini akan mempercepat transformasi tenaga kesehatan, memastikan bahwa para lulusan Poltekkes diperlengkapi dengan baik untuk memberikan perawatan berkualitas tinggi kepada seluruh masyarakat Indonesia.
Ditulis oleh Zakiyah Eke, National Professional Officer for Health Workforce, WHO Indonesia
