
Jakarta, Universitas Adamant – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan media sosial era belum lama ini seperti TikTok menjadi alternatif netizen buat mencari rekomendasi, tutorial, hingga informasi mendalam terkait suatu topik. Kejayaan Google sebagai orang penguasa mesin pencari mulai runtuh
Selain itu, tekanan bertubi-tubi daripada Uni Eropa dan AS terkait monopoli Google juga menambah tantangan bagi raksasa Mountain View tersebut.
Terbaru, Apple berencana memasukkan pencarian berbasis AI menuju browser Safari mulai tahun depan, seperti alternatif pencarian default menggunakan Google.
Hal barang ini diungkapkan wakil presiden senior layanan Apple, Eddy Cue luar persidangan antimonopoli Google. Cue bersaksi buat pembayaran sebesar US$20 miliar berasal dari Google hingga Apple untuk keperluan membuat Search seperti layanan mesin pencari default di Safari.
Dikutip asal-usul The Verge, Kamis (8/5/2025), sejumlah penyedia layanan pencari AI telah berdiskusi dengan dia Apple, yakni Perplexity, OpenAI dan Anthropic.
“Sampai sekarang, fitur peristiwa tersebut belum optimal baik,” kata Cue.
Menurut Cue, pengembangan AI generatif masih ke dalam tahap awal. Perjanjian dengan saya sejumlah perusahaan dilakukan Apple sebagai tujuan memastikan memiliki opsi lain sebagai tujuan penyedia layanan.
Apple diketahui ikut serta masuk perkembangan teknologi AI. Salah satunya mengintegrasikan Siri bersama-sama ChatGPT.
Selain itu, rencananya Gemini milik Google juga akan hadir di iPhone. CEO Sundar Pichai mengonfirmasi Google kian di sekitar sini bersama-sama kesepakatan tersebut.
Cue menambahkan pencarian di Safari mengalami penurunannya bulan lalu. Fenomena itu dia diklaimnya terjadi terbaru pertama kali ke dalam 22 tahun.
Gen Z Tinggalkan Google Pindah ke arah Penggantinya
Terpisah, laporan The Verge berkolaborasi dengan saya tim Research dan Insights asal-usul Vox Media serta Two Cents Insights, mengungkap adanya perubahan tren ke dalam cara netizen mencari informasi di pusat pesatnya perkembangan teknologi, termasuk AI.
Laporan tersebut menyimpulkan, kekuatan kini mulai beralih kembali menuju tangan pengguna. Masyarakat makin mengutamakan komunitas apa memiliki nilai dan kredibilitas terlalu tinggi luar menyerap informasi yang mana dapat dipercaya.
“Teknologi warisan seperti Google dan platform sosial lainnya mulai kehilangan kepercayaan masyarakat. Banyak orang yang mana beralih menuju chatbot AI dan komunitas kecil, serta platform semacam TikTok,” kata laporan The Verge.
Kesimpulan yang tersebut didapat The Verge dan mitranya dihasilkan asal-usul survey 2.000 pengguna internet di Amerika Serikat. Secara angka, 42% mengatakan mesin pencari seperti Google makin tak berguna.
Sebanyak 66% mengatakan kualitas informasi di internet kian jelek dan susah mencari sumber informasi apa dapat diandalkan. Sebanyak 55% memilih bertumpu pada saat komunitas orang-orang itu buat mencari informasi terbaru, lebih besar asal-usul platform pencarian seperti Google.
Sementara itu, 52% telah beralih ke tempat chatbot AI dan platform alternatif seperti TikTok bagi mencari informasi, ketimbang mengandalkan Google.
Menurunnya tingkat kepercayaan pengguna internet terhadap Google tidak datang berasal dari ruang hampa. Sebanyak 76% responden mengatakan lebih baik dari tempat seperempat hasil pencarian orang-orang di Google ketika hendak belanja online menunjukkan konten bersponsor atau sengaja dipromosikan secara berbayar.
Hanya 14% daripada konten bersponsor tersebut yang mana dinilai benar-benar membantu pengalaman pencarian pengguna.
Sebanyak 61% Gen Z dan 53% milenial mengatakan orang-orang menggunakan tool AI buat menggantikan Google ke dalam mencari informasi terkait topik apa spesifik.
Saat ini, habis banyak tool AI apa beredar di pasaran dan dapat dijadikan alternatif pengganti mesin pencari Google. Selain Perplexity dan OpenAI siapa populer, ada juga mesin pencari AI yang tersebut relatif belum banyak terdengar. Misalnya iAsk.Ai, Komo AI, Brave Search, Andi Search, hingga You.com.
(pgr/pgr)
