Universitas Adamant, TANGERANG SELATAN – Di balik bisingnya lalu lintas dan keramaian Pasar Ciputat, sebuah pemandangan inspiratif tersaji di kolong jembatan. Di sana, sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM) bernama TBM Kolong menjadi rumah bagi mimpi anak-anak kekurangan beruntung, seperti Ilham (8) dan Hasna.
Mereka adalah sebagian dari tempat “Pemimpi” yang seperti diajak menabur harapan melalui Bahasa Inggris. Ilham, apa setiap pagi membantu ibunya berjualan baju, memiliki cita-cita tanpa hiasan namun besar. “Aku mau berdaya ngomong kaya dia,” bisiknya pelan, merujuk di Nora, seorang pengajar bule yang seperti sering ditemuinya. Keinginannya sebagai tujuan menguasai Bahasa Inggris mencerminkan kerinduan akan kesempatan apa lebih banyak luas.
Tak kalah inspiratif adalah Hasna. Gadis kecil sekali kejadian ini tak sedikit pun melihat keterbatasan kondisinya. Justru, ia begitu optimis dengan saya mimpinya menjelajahi dunia. “Saya siap! Saya mau keliling dunia, terutama Amerika!” ujarnya penuh semangat.
Komunitas TBM Kolong punya sebutan unik bagi para pengurus dan anak didiknya. Para pengurus dinamai “Penjaga Mimpi”, sementara anak-anak yang mana menghafal di tempat itu adalah “Pemimpi”.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Wisnu, Ketua Komunitas TBM Kolong, menjelaskan bahwa julukan “Pemimpi” bagi anak-anak di ke sana punya makna mendalam. Ia menyebut, sebagian gede anak yang tersebut datang hingga TBM Kolong berasal asal-usul keluarga praktis siapa barangkali tidak setinggi mendapatkan dukungan demi bermimpi besar.
“TBM hadir demi menumbuhkan semangat menghafal dan cita-cita mereka. Setiap anak yang seperti datang ke tempat TBM punya potensi dan mimpi gede yang tersebut barangkali terpendam,” terang Wisnu.
Kata “Pemimpi” ini, lanjutnya, juga sebagai contoh bentuk harapan agar orang-orang tidak hanya berani bermimpi tetapi juga berani berusaha mewujudkannya.
Bahasa Inggris: Kunci Pembuka Pintu Dunia
Akses pendidikan formal seringkali menjadi kendala bagi anak-anak di kolong jembatan ini. Buku-buku usang dan fasilitas seadanya adalah realitas sehari-hari. Namun, TBM Kolong hadir sebagai contoh jembatan harapan, tempat orang-orang belajar membaca, menulis, berhitung, dan kini, Bahasa Inggris.
Pada 25 Mei 2025 lalu, semangat hal tersebut semakin membara. Speaking English Community (SEC) bersama mitra Golden English datang untuk keperluan mengajar Bahasa Inggris dasar. Reaksi anak-anak sungguh ke luar biasa. Mereka menyambut bersama sorakan, tertawa, dan berebut mengangkat tangan sebagai tujuan menjawab pertanyaan. “Good job!” dan “You’re amazing!” menjadi kalimat penyemangat yang tersebut menyalakan mata mereka.
Seorang relawan SEC mengungkapkan kekagumannya. Ia menuturkan, ia datang demi mengajar, namun justru banyak belajar tentang semangat dan ketulusan berasal dari anak-anak di sana. Ada anak yang tersebut dulunya pemalu, kini berani memperkenalkan diri luar Bahasa Inggris. Ada pula yang seperti meminta diajari lebih baik banyak karena bercita-cita keliling dunia saat dewasa nanti.
Bagi anak-anak ini, Bahasa Inggris bukan sekadar pelajaran. Ia adalah kunci pembuka pintu menuju masa depan, sebuah alat sebagai tujuan berani bermimpi lebih banyak gede dari tempat batas apa kemungkinan ditetapkan dunia pada tempat mereka.
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;}
.wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
